Jumat, 23 Desember 2011

HUKUM "CHATTING"


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِي

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته..الحمدلله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، وعلى اله وصحبه أجمعين


Keluargaku...... ada Penanya: Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi ngenet (main internet) dan chatting (ngobrol). Aku hampir tidak pernah chatting dengan wanita. Jika terpaksa aku chatting dengan wanita maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.

Kurang dari setahun lalu ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu meminta no HP-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak ingin membuat Allah murka kepadaku.


Dia lalu mengatakan, “Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia. Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”. Kukatakan kepadanya, “Maaf aku tidak mau menggunakan HP”. Kemudian dia berkata dengan nada kesal, “Terserah kamu kalo gitu”.


Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting. Suatu ketika dia mengatakan, “Aku ingin no HP-mu”. “Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku. Dia lalu berjanji tidak akan menghubungiku kecuali ada hal yang mendesak. Kalau demikian aku sepakat.


Setelah itu selama tiga bulan dia tidak pernah menghubungiku. Akupun berdoa agar Allah menjadikannya bersama hamba-hamba-Nya yang shalih.


Tak lama kemudian ada seorang gadis kurang lebih berusia 16 tahun yang berakhlak dan sangat sopan menghubungi no HP-ku. Dia berkata dalam telepon, “Apa benar engkau bernama A?”. “Benar, apa yang bisa kubantu”, tanyaku. Dia mengatakan, “Fulanah, yaitu gadis yang telah kukenal via chatting, nitip salam untukmu”. “Salam kembali untuknya. Mengapa tidak dia sendiri yang menghubungiku?”, tanyaku. “Telepon rumahnya diawasi ketat oleh orang tuanya”, jawabnya.


Setelah orang tuanya kembali memberi kelonggaran, dia kembali menghubungiku. Kukatakan kepadanya, “Jangan sering telepon” namun dia selalu saja menghubungiku. Akan tetapi pembicaraan kami sebatas hal-hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk melaksanakan shalat, puasa dan shalat malam.


Setelah beberapa waktu lamanya, dia berterus terang kalau dia jatuh cinta kepadaku dan aku sendiri juga sangat mencintainya. Aku juga berharap bisa menikahinya sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya karena dia adalah seorang gadis yang berakhlak, beradab dan taat beragama setelah aku tahu secara pasti bahwa aku adalah orang yang pertama kali melamarnya via telepon.


Akan tetapi empat bulan yang lewat, ayahnya memaksanya untuk menikah dengan saudara sepupunya sendiri karena ayahnya marah dengannya. Inilah awal masalah. Aku mulai sulit tidur. Kukatakan kepadanya, “Serahkan urusan kita kepada Allah. Kita tidak boleh menentang takdir”. Namun dia meski sudah menikah tetap saja menghubungiku. Kukatakan kepadanya, “Haram bagimu untuk menghubungiku karena engkau sudah menjadi istri seseorang”.


Yang jadi permasalahan, bolehkah dia menghubungiku via HP sedangkan dia telah menjadi istri seseorang? Allah-lah yang menjadi saksi bahwa pembicaraanku dengannya sebatas hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk menambah ketaatan terlebih lagi ayahnya memaksanya untuk menikah dengan dengan lelaki yang tidak dia cintai.


Jawab:

Saling menelepon antar lawan jenis itu tidaklah diperbolehkan secara mutlak baik pihak wanita sudah bersuami maupun belum. Bahkan ini adalah tipu daya Iblis.


Engkau katakan bahwa tidak ada hubungan antaramu dengan dia selain saling menasehati dan mengajak untuk melakukan amal shalih. Perhatikan bagaimana masalah cinta dan yang lainnya menyusup melalui hal ini. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau mencintainya dan diapun mencintaimu sedangkan katamu topik pembicaraanmu hanya seputar amal shalih? Kami tahu sendiri beberapa pemuda yang semula sangat taat beragama berubah menjadi menyimpang gara-gara hal ini.


Wahai saudaraku bertakwalah kepada Allah. Jauhilah perkara ini. Cara-cara seperti ini lebih berbahaya dari pada cara-cara orang fasik yang secara terang-terangan ngobrol dengan perempuan dengan tujuan-tujuan yang tidak terpuji. Mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah maksiat. Sadar bahwa perkara itu adalah keliru merupakan awal langkah untuk memperbaiki diri.


Sedangkan dirimu tidak demikian bahkan bisa jadi engkau menganggapnya sebagai sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (HR Bukhari no 4808 dan Muslim no 2740 dari Usamah bin Zaid).


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita” (HR Muslim no 7124 dari Abu Sa’id Al Khudry).


Perempuan yang mengajakmu ngobrol dengan berbagai obrolan ini padahal tidak ada hubungan kekerabatan antara dirimu dengannya adalah suatu yang haram. Hati-hatilah dengan cara-cara seperti ini. Semoga Allah menjadikanmu sebagai salah seorang hamba-Nya yang shalih.


Tanya: Sekiranya jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah tidak boleh apakah boleh dia mengajakku ngobrol via chatting?


Jawab:

Wahai saudaraku, hal ini tidaklah dibolehkan. Hubunganmu dengannya semula adalah chatting lalu berkembang menjadi komunikasi langsung via telepon dan puncaknya adalah ungkapan cinta. Apakah hanya akan berhenti di sini?


Semua hal ini adalah tipu daya Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam hal-hal yang haram. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia masih menyelamatkanmu. Bertakwalah kepada Allah, jangan ulangi lagi baik dengan perempuan tersebut ataupun dengan yang lain.


Tanya: Apa hukum seorang laki-laki yang chatting dengan seorang perempuan via internet dan yang dibicarakan adalah hal yang baik-baik?

Jawab:

Tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan fatwa yang bersifat umum untuk permasalahan semisal ini karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-masak. Fatwa yang bisa saya sampaikan kepadamu adalah obrolan dengan lawan jenis yang semisal kau lakukan adalah tidak diperbolehkan. Bukti nyata untuk hal ini adalah apa yang engkau ceritakan sendiri bahwa hubunganmu dengan perempuan tersebut terus berkembang ke arah yang terlarang.


(Dinukil dan diterjemahkan dari Majmu Fatawa Al Adab karya Nashir bin Hamd Al Fahd).

Lampiran:

Berikut kami lampirkan Fatwa Teks Asli berbahasa Arab, sbb:
(مخاطبة الأجنبية عبر الإنترنت) انا شاب من هوات الانترنت والمحادثة ولله الحمد لا اتكلم مع البنات الا نادر واذا تكلمة لا اتكلم الا فيما يرضي الله عز وجل لا اقول ما يغضب الله وكله في حدود الله وقبل اقل من عام كلمتني بنت وطلبت رقم الهاتف الخاص بي فاجبتها بانني لا استخدم الهاتف ولا احب ان اغضب ربي علي فقالت لي انك شخص مؤدب خلوق وسوف اسعد لو احببتني واحببتك واكملنى حياتنى مع بعض فقلت لها لا اسف لا استخدم الهاتف فقالت كما تريد ومع مرور الايام والاشهر وكل حديثنى مجرد كتابه في المحادثة فقط بعد حوالي شهر قالت لي اريد رقم الهاتف الخاص بك قلت لها لقد اجبتك من قبل قالت ارجوك اتركه معي للزمن واوعدك ان لا اتصل بك الا اذا لزم الامر! فقلت اتفقنى….بعد 3 شهور اختفت ودعيت الله ان يجعلها مهع عباده الصالحين….وبعد فترة من الزمن جائني اتصال قريبب من بنت عمرها 16 سنه خلوقة مؤدبه تتكلم وترتجف!! فقلت نعم قالت انت فلان قلت نعم بم اخدمك قالت فلانه تسلم عليك! تقصد البنت التي كنت قد عرفتها في الانترنت قلت عليك وعليها تحية الاسلام ولماذا لم تتصل قالت تلفون بيتها مراقب….ثم انصرفت فعاودة الاتصال فاحرجة انت اقو لها لا تتصلي فقامت تتصل و تتصل وكل كلامنى في حدود الله وكنى نحث بعض على الصلاة والصوم وقيام الليل وبعد فترة من الزمن صارحتني بحبها لي…ولا اكذب عليك لقد احببتها حب كبير وكنت اتمنى ان اتزوجها على سنة الله ورسوله لما رايته فيها من ادب واخلاق ودين وبعد ان تاكدت انني اول من خاطبته في التلفون ولكن قبل 4 شهور جبرها ابوها على ان تتزوج ابن عمها غصب عنها! وهنا بدات الماساه حيث كرهت النوم فقلت لها سلمي امرك وامري الى الله اللهم لا اعتراض فقامت تتصل بي فقلت لها انه حرام لانك على ذمت رجل اخر السؤال: هل من الممكن ان تكلمني في الهاتف؟ وهي على ذمت رجل والله ادرى ان كلامنى في حدود الله ونحث بعض على زيادة الدين ومع العلم ان اباها جبرها على الزواج غصب عنها ج/ لا يجوز هذا مطلقا ، سواء كانت على ذمة رجل أو لا ، بل هذه من خدع إبليس أن تقول ليس بيني وبينها إلا التناصح والحث على الأعمال الصالحة ، وانظر كيف دخلت مسائل -الحب- وغيرها هنا ، ألا تخبرنا : -كيف أحببتها وأحبتك- وأنتم حديثكم عن الأعمال الصالحة؟ ونحن نعرف شبابا من خيرة الشباب انتكسوا من الالتزام إلى الانحراف بسبب هذه الأمور. أيها الأخ الكريم اتق الله وإياك وهذه المسالك فإنها أخطر من مسالك الفساق الذين يتحدثون صراحة مع النساء لأغراض سيئة لأن أولئك يعلمون ما هم فيه من معصية ومعرفة الداء طريق الدواء، وأما أنت فلا ، بل قد تظنه قربة ، وقد قال الرسول صلى الله عليه وسلم -ما تركت بعدي فتنة هي أضر على الرجال من النساء وإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء- والمرأة التي تحدثك هذه الأحاديث وليس بينك وبينها قرابة محرمة تحدث غيرك، فإياك ثم إياك من مثل هذه الطرق ، جعلك الله من عباده الصالحين س/ واذا كان الجواب لا هل من الممكن ان تكلمني في الانترنت مجرد كتابه؟ ج/ هذا لا يجوز أخي الكريم ، وعلاقتك معها تطورت من الكتابة في الإنترنت إلى التخاطب في الهاتف إلى التصريح بالحب ، وهل ستتوقف عند هذا؟، وهذا كله طريق لإبليس لإيقاع المسلمين في المحرمات ، فاحمد الله على سلامتك واتق الله ولا تعد الكرة معها ولا مع غيرها س/ وما حكم الرجل اذا خاطب بنت في الانترنت مجرد كتابه في حدود شرع الله عز وجل ؟ ج/ لا يستطيع أحد أن يصدر فتوى عامة في مثل هذا الموضوع لأن هذا كله يخضع لأمور كثيرة، ولكن الذي أستطيع إفتاءك به هو أن ما كان من جنس عملك هذا في التخاطب معهن فهو لا يجوز ، وأعظم الأدلة على ذلك ما ذكرته أنت في تطور علاقتك بإحداهن


Oleh : Syaikh Nashir bin Hamd Al Fahd

Sumber: http://atsarussalaf.wordpress.com/2010/02/26/hukum-chatting-ngobrol-antar-lawan-jenis-via-internet/

Baca Selengkapnya... - HUKUM "CHATTING"

Kamis, 22 Desember 2011

SIAPA SAJA MAHRAM / MUHRIM ITU……… ?

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته..الحمدلله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، وعلى اله وصحبه أجمعين

Keluargaku....Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya di-fathah.

Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.

Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).
Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:

1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita
2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu
4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu
6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita
Mereka inilah yang dimaksudkan Allah subhanahu wa ta’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…” (An-Nisa: 23)

Kelompok kedua, juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala:

وَأُمَّهَاتُكُمُ الاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ
“Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan.” (An-Nisa 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susu itu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu. Ini menunjukkan secara tanbih bahwa suaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandung dari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama. Maka ayat ini dan hadits yang marfu’:

يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ
“Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena punyusuan.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Abbas),

keduanya menunjukkan tersebarnya hubungan mahram dari pihak ibu dan ayah susu sebagaimana tersebarnya pada kerabat (nasab). Maka ibu dari ibu dan bapak (orang tua) susu misalnya, adalah mahram sebagai nenek karena susuan dan seterusnya ke atas sebagaimana pada nasab. Anak dari orang tua susu adalah mahram sebagai saudara karena susuan, kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara (keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah.

Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.
Adapun dari pihak anak yang menyusu, maka hubungan mahram itu terbatas pada jalur anak keturunannya saja. Maka seluruh anak keturunan dia, berupa anak, cucu dan seterusnya ke bawah adalah mahram bagi ayah dan ibu susunya.

Hanya saja, berdasar pendapat yang paling kuat (rajih), yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya.” (Al-Baqarah: 233)

Dan Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha muttafaqun ‘alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.

Dan yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.

Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:
1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.
2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.
3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.
4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.

Nomor 1, 2 dan 3 hanya menjadi mahram dengan akad yang sah meskipun belum melakukan jima’ (hubungan suami istri). Adapun yang keempat maka dipersyaratkan bersama dengan akad yang sah dan harus terjadi jima’, dan tidak dipersyaratkan rabibah itu harus dalam asuhannya menurut pendapat yang paling rajih yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu.

Dan mereka tetap sebagai mahram meskipun terjadi perceraian atau ditinggal mati, maka istri bapak misalnya tetap sebagai mahram meskipun dicerai atau ditinggal mati. Dan Rabibah tetap merupakan mahram meskipun ibunya telah meninggal atau diceraikan, dan seterusnya.
Selain yang disebutkan di atas, maka bukan mahram. Jadi boleh seseorang misalnya menikahi rabibah bapaknya atau menikahi saudara perempuan dari istri bapaknya dan seterusnya.

Begitu pula saudara perempuan istri (ipar) atau bibi istri, baik karena nasab maupun karena penyusuan maka bukan mahram, tidak boleh safar berdua dengannya, berboncengan sepeda motor dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, berjabat tangan, dan seterusnya dari hukum-hukum mahram tidak berlaku padanya. Akan tetapi tidak boleh menikahinya selama saudaranya atau keponakannya itu masih sebagai istri hingga dicerai atau meninggal. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ
“Dan (haram atasmu) mengumpulkan dua wanita bersaudara sebagai istri (secara bersama-sama).” (An-Nisa: 23)

Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu muttafaqun ‘alihi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengumpulkan seorang wanita dengan bibinya sebagai istri secara bersama-sama. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As-Sa’di, Syarhul Mumti’, 5/168-210)

Penulis : Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini

Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=162
Baca Selengkapnya... - SIAPA SAJA MAHRAM / MUHRIM ITU……… ?

PUSAT INFO MARITIM INDONESIA

DAFTAR LITERATUR PELAJARAN ISLAM

01. 33 FAKTOR YANG MEMBUAHKAN KEKHUSYU'AN DALAM SHALAT
........................................................................................................
02. ADAB BERDO'A
........................................................................................................
03. Adab-Adab Wajib dalam Berpuasa
........................................................................................................
04. AGAR ANDA MUDAH BANGUN UNTUK SHALAT SUBUH
........................................................................................................
05. Akhirnya Saya berhasil Mematikan Rokok
........................................................................................................
06. AMALAN-AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN
........................................................................................................
07. Apakah Menyentuh Kemaluan Membatalkan Wudhu?
........................................................................................................
08. Bagaimana Cara Menyambut Ramadhan
........................................................................................................
09. Bagaimana Cara Menyambut Ramadhan
........................................................................................................
10. BAHAYA KEMAKSIATAN
........................................................................................................
11. BAHAYA MEROKOK
........................................................................................................
12. BAITI JANNATI
........................................................................................................
13. Beberapa Kekeliruan Kaum Muslimin Seputar Lailatul Qadar
........................................................................................................
14. Beberapa Kesalahan Dalam Bersuci
........................................................................................................
15. Beberapa Kesalahan Dalam Shalat
........................................................................................................
16. CARA PENGOBATAN DENGAN AL QURAN
........................................................................................................
17. CUKUPLAH KEMATIAN SEBAGAI PERINGATAN
........................................................................................................
18. DAHSYATNYA KEKUATAN DO'A
........................................................................................................
19. DAMPAK NEGATIF KEMAKSIATAN DAN DOSA
........................................................................................................
20. DO'A DAN DZIKIR PILIHAN
........................................................................................................
21. DO'A SENJATA ORANG MUKMIN
........................................................................................................
22. DOSA-DOSA YANG DIANGGAP BIASA
........................................................................................................
23. DZIKIR SETELAH SHALAT
........................................................................................................
24. FAEDAH-FAEDAH SAKIT
........................................................................................................
25. Fatwa Tentang Hakikat Sihir
........................................................................................................
26. FATWA TENTANG TATA CARA SHALAT WITIR
........................................................................................................
27. FATWA-FATWA PENTING TENTANG SHALAT
........................................................................................................
28. FATWA-FATWA RAMADHAN
........................................................................................................
29. Hakikat Jin, Pengaruh Dan Cara Pengobatan Kesurupan
........................................................................................................
30. Hal-Hal Yang Diperbolehkan dan Dilarang Dalam Penyelenggaraan Jenazah
........................................................................................................
31. Hal-Hal Yang Diwajibkan dalam Shalat
........................................................................................................
32. HAL-HAL YANG MENGHAPUSKAN DOSA
........................................................................................................
33. Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi
........................................................................................................
34. Haramnya Sihir Pengasih dan Pembenci
........................................................................................................
35. HUKUM MEROKOK DAN MENJUALNYA
........................................................................................................
36. HUKUM ORANG YANG MENGINGKARI ADANYA JIN
........................................................................................................
37. Hukum Perdukunan dan Mendatangi Para dukun
........................................................................................................
38. Hukum Shalat dan Keutamaannya
........................................................................................................
39. HUKUM-HUKUM JENAZAH
........................................................................................................
40. Hukum-Hukum Shalat
........................................................................................................
41. KAIDAH-KAIDAH PENGOBATAN ISLAMY
........................................................................................................
42. Kedudukan Puasa Ramadhan
........................................................................................................
43. KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI
........................................................................................................
44. KEMBALI KEPADA RAMADHAN KAUM SALAF
........................................................................................................
45. Keutamaan Bersegera Menunaikan Shalat
........................................................................................................
46. Keutamaan Ibadah di Bulan Ramadhan
........................................................................................................
47. Keutamaan Ibadah di Bulan Ramadhan
........................................................................................................
48. Keutamaan Qiyam Ramadhan
........................................................................................................
49. Keutamaan Ramadhan
........................................................................................................
50. Keutamaan Shalat Malam
........................................................................................................
51. Keutamaan Shalat Subuh
........................................................................................................
52. KHUSUK DALAM SHALAT
........................................................................................................
53. KHUSYUK dan TUMAKNINAH DALAM SHALAT
........................................................................................................
54. KIAT-KIAT MENGHINDARI BENCANA
........................................................................................................
55. KUMPULAN DO'A DALAM ALQUR'AN DAN HADITS
........................................................................................................
56. LORONG-LORONG SYETAN UNTUK MENYESATKAN MANUSIA
........................................................................................................
57. MAAF...... DILARANG MEROKOK
........................................................................................................
58. Makna Hadits: Tiga Hal Yang Mengikuti Jenazah
........................................................................................................
59. MENGHADIRKAN HATI DALAM SHALAT
........................................................................................................
60. MENGINGAT KEMATIAN & MENYIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA
........................................................................................................
61. MENGINGAT KEMATIAN & ZUHUD TERHADAP DUNIA
........................................................................................................
62. MENJAGA LISAN
........................................................................................................
63. Menyambut Bulan Mulia
........................................................................................................
64. Menyentuh Perempuan dan Mencium Istri, Apakah Membatalkan Wudhu?
........................................................................................................
65. Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan
........................................................................................................
66. Muhasabah ( Introspeksi diri )
........................................................................................................
67. NASEHAT UNTUK SUAMI ISTRI
........................................................................................................
68. PAGAR DIRI
........................................................................................................
69. Peringatan Bagi yang Melalaikan Shalat Subuh
........................................................................................................
70. PINTU-PINTU PAHALA DAN PENGHAPUS DOSA
........................................................................................................
71. Puasa Anak Kecil di Bulan Ramadhan
........................................................................................................
72. Puasa ‘Asyura
........................................................................................................
73. Ramadhan Bulan Produktifitas
........................................................................................................
74. Ramadhan dan Taubat Kepada Allah
........................................................................................................
75. RENUNGAN PUASA
........................................................................................................
76. Renungan Seputar Shalat Tarawih
........................................................................................................
77. RENUNGAN TENTANG KEMATIAN
........................................................................................................
78. Ringkasan Hukum-Hukum Seputar Puasa
........................................................................................................
79. RISALAH RAMADHAN
........................................................................................................
80. Serial Bimbingan & Penyuluhan Islam
........................................................................................................
81. Shalat Bagi Orang Pemilik Udzur & Shalat Khauf
........................................................................................................
82. Shalat Berjamaah
........................................................................................................
83. Sifat Shalat Nabi dari Takbir Hingga Salam
........................................................................................................
84. SIKSA KUBUR DAN KENIKMATANNYA
........................................................................................................
85. SUAMI TIDAK SHALAT
........................................................................................................
86. TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH DAN SUUL KHATIMAH
........................................................................................................
87. Tata Cara Shalat Tarawih dan Witir
........................................................................................................
88. Tata Cara Wudhu Yang Sempurna
........................................................................................................
89. TUNTUNAN THAHARAH DAN SHALAT
........................................................................................................
90. Urgensi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
........................................................................................................
91. WARA'
........................................................................................................
92. JUDUL
........................................................................................................
93. JUDUL
........................................................................................................
94. JUDUL
........................................................................................................
95. JUDUL
........................................................................................................
96. JUDUL
........................................................................................................
97. JUDUL
........................................................................................................
98. JUDUL
........................................................................................................
99. JUDUL
........................................................................................................
100. JUDUL
........................................................................................................
101. JUDUL
........................................................................................................
102. JUDUL
........................................................................................................
103. JUDUL
........................................................................................................
104. JUDUL
........................................................................................................
105. JUDUL
........................................................................................................
106. JUDUL
........................................................................................................
107. JUDUL
........................................................................................................
108. JUDUL
........................................................................................................
109. JUDUL
........................................................................................................
110. JUDUL
........................................................................................................
111. JUDUL
........................................................................................................
112. JUDUL
........................................................................................................
113. JUDUL
........................................................................................................
114. JUDUL
........................................................................................................
115. JUDUL
........................................................................................................
116. JUDUL
........................................................................................................
117. JUDUL
........................................................................................................
118. JUDUL
........................................................................................................
119. JUDUL
........................................................................................................
120. JUDUL
........................................................................................................
121. JUDUL
........................................................................................................
122. JUDUL
........................................................................................................
123. JUDUL
........................................................................................................
124. JUDUL
........................................................................................................
125. JUDUL
........................................................................................................

LINK ISLAM

01. AL QUR'AN ON-LINE
........................................................................................................
02. DAFTAR ALAMAT LEMBAGA ISLAM
........................................................................................................
03. ISLAM IS MY RELIGION
........................................................................................................
04. ISLAMIC BROADCASTING FORUM
........................................................................................................
05. KABAR ISLAM
........................................................................................................
06. MEDIA ISLAM
........................................................................................................
07. JUDUL
........................................................................................................
08. JUDUL
........................................................................................................
09. JUDUL
........................................................................................................
10. JUDUL
........................................................................................................
11. JUDUL
........................................................................................................
12. JUDUL
........................................................................................................
13. JUDUL
........................................................................................................
14. JUDUL
........................................................................................................
15. JUDUL
........................................................................................................
16. JUDUL
.....................................................................
17. JUDUL
........................................................................................................
18. JUDUL
........................................................................................................
19. JUDUL
........................................................................................................
20. JUDUL
........................................................................................................
21. JUDUL
........................................................................................................
22. JUDUL
........................................................................................................
23. JUDUL
........................................................................................................
24. JUDUL
........................................................................................................
25. JUDUL
........................................................................................................
26. JUDUL
........................................................................................................
27. JUDUL
........................................................................................................
28. JUDUL
........................................................................................................
29. JUDUL
........................................................................................................
30. JUDUL
........................................................................................................
31. JUDUL
........................................................................................................
32. JUDUL
........................................................................................................
33. JUDUL
........................................................................................................
34. JUDUL
........................................................................................................
35. JUDUL
........................................................................................................
36. JUDUL
........................................................................................................
37. JUDUL
........................................................................................................
38. JUDUL
........................................................................................................
39. JUDUL
........................................................................................................
40. JUDUL
........................................................................................................
41. JUDUL
........................................................................................................
42. JUDUL
........................................................................................................
43. JUDUL
........................................................................................................
44. JUDUL
........................................................................................................
45. JUDUL
........................................................................................................
46. JUDUL
........................................................................................................
47. JUDUL
........................................................................................................
48. JUDUL
........................................................................................................
49. JUDUL
........................................................................................................
50. JUDUL
........................................................................................................
51. JUDUL
........................................................................................................
52. JUDUL
........................................................................................................
53. JUDUL
........................................................................................................
54. JUDUL
........................................................................................................
55. JUDUL
........................................................................................................
56. JUDUL
........................................................................................................
57. JUDUL
........................................................................................................
58. JUDUL
........................................................................................................
59. JUDUL
.....................................................................
60. JUDUL
........................................................................................................
61. JUDUL
........................................................................................................
62. JUDUL
........................................................................................................
63. JUDUL
........................................................................................................
64. JUDUL
........................................................................................................
65. JUDUL
........................................................................................................